Jumat, 31 Mei 2013

Kenaikan BBM Bersubsidi yang Meresahkan


             Kenaikan BBM (bahan bakar minyak) bersubsidi memang sudah menjadi isu yang tidak baru, karena sejak dari zaman masih pemerintahan Soekarno sampai dengan pemerintahan yang Susilo Bambang Yudhoyono pimpin sekarang kurva harga jualnya BBM bersubsidi semakin naik akibatnya beragam masalah pun timbul baik dari individu kecil sampai organisasi. Dari kalangan individu sendiri ada ada golongan mahasiswa yang dirugikan hal ini tentu bukan barang baru lagi jika kecaman dan penolakan terhadap kenaikkan BBM bersubsidi selalu di tentang oleh mahasiswa.


             Pada awalnya tujuan dari kenaikkan BBM adalah untuk merespons harga minyak dunia yang sudah melambung tinggi melebihi asumsi harga minyak ICP sebesar USD90 per barel. Namun pada perjalanannya ini bisa saja menjadi ladang bisnis oleh para penguasa untuk memperkaya diri dan tentu saja ujung-ujungnya rakyat kecil yang menjadi tumbal dari keegoisan penguasa. Melihat potensi tersebut pks pun angkat suara untuk menolak kenaikkan bbm bersubsisdi. Bila kita mau bercermin pada kenaikkan-kenaikkan sebelumnya terlihat tidak terlihat berdampak positif pada kelangsunggan pemerintahan hanya malah memicu pada kenaikkan-kenaikkan pada segment-segment yang lain.
            Terjadi  protes keras dari berbagai kalangan khususnya pada pihak masyarakat menengah ke bawah dan tentu saja dari para aktivis mahasiswa yang baru ini melakukan demo yang terjadi di makasar Aksi digelar di kantor Pertamina Divre VII Makassar. Emosi mahasiswa dapat diredam oleh aparat Polrestabes Makassar yang membantu proses negosiasi antara mahasiswa dan pegawai Pertamina. Saat memaksa masuk, para mahasiswa nyaris merobohkan pagar kantor Pertamina. Dalam penolakkannya terjadi adu pukul yang berujung pada penganiayaan di pihak mahasiswa oleh aparat tentu saja ini menjadi memperburuk keadaan. Sepertinya setiap penolakkan dari rakyat tidak teralu ditanggapi demokrasi yang menjadi dasar Negara ini tidak begitu dipedulikan.
            Dengan adanya penolakkan dari PKS (Partai Keadilan Sejahtera) yang mengisyaratkan bahwa kenaikkan BBM bersubsidi ditinjau sudah tidak relevan lagi untuk lakukan. Penolakan PKS atas kenaikan harga BBM itu bukan hanya pencitraan tapi ada alasan mendasar karena banyak pendapat dan analisis yang digunakan sehingga PKS menolak kebijakan tersebut. Menilai harga minyak dunia saat ini sedang turun sehingga tidak perlu harga BBM dalam negeri dinaikkan. Akar masalah konsumsi tidak terkendali BBM adalah mafia penyelundup BBM bersubsidi ke pihak asing, sementara masih banyak BBM subsidi diselewengkan pihak tertentu untuk digunakan bagi sektor industri padahal seharunya untuk masyarakat umum khususnya menengah ke bawah.
            Kenaikan harga BBM bersubsidi itu akan menimbulkan efek domino berupa kenaikan harga sembilan kebutuhan pokok (sembako), biaya transportasi dan biaya komoditas yang berpotensi menaikkan angka kemiskinan dan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) karena biaya komoditas naik. Kenaikan upah buruh yang baru beberapa waktu lalu diyakini tidak akan mampu memenuhi kebutuhan hidup karena diikuti oleh naiknya harga bahan pokok sebagai dampak kenaikan harga BBM.
Pada akhirnya rakyatlah yang akan menanggung semua perubahaan dan beban dalam sebuah negara termasuk kenaikkan-kenaikkan yang ditelah disepakati. mungkin untuk kalangan menengah ke atas masih bisa menerima perubahan pada harga jual BBM karena mereka tergolong mampu untuk masalah finansial tapi tidak dengan masyarakat menengah ke bawah. kerena ini negara yang demokrasi harusnya suara rakyat itu didengar , ditanggapi, serta diimplementasikan. namun yang berlangsung hanya permainan politik orang-orang berkuasa sepanjang mereka tidak dirugikan maka tidak masalah pikir mereka.

4 komentar:

Moh Rifandi LIhawa mengatakan...

segala bentuk perubahan yang di tetapkan oleh pemerintah pastinya sudah di perhitungkan dengan sangat baik, mungkin saja hanya kurang memberikan pengertian kepada masyarakat saja untuk apa tujuan untuk apa sebenarnya harga BBM di naikan.

nice info bro, ^_^

Unknown mengatakan...

Hmm, lagi lagi masalah bbm ya...
Menurut saya, untuk masalah bbm ini (baru - baru ini) pemerintah tetap mendengar aspirasi masyarakat. namun saya rasa pemerintah hanya kurang tegas dan jelas terhadap jalan yang mereka pilih... (CMIIW)

novitarindiani.blogspot.com mengatakan...

sebaiknya jika memang bbm akan dinaikan , tetap harus memeperhatikan berbagai pihak,khususnya bagi orang yang masih berpengahsilan dibawah minimum, tentunya mereka akan menerima imbasnya, mereka yang akan menderita.
ST3 Telkom

novitarindiani.blogspot.com mengatakan...

sebaiknya jika memang bbm akan dinaikan , tetap harus memeperhatikan berbagai pihak,khususnya bagi orang yang masih berpengahsilan dibawah minimum, tentunya mereka akan menerima imbasnya, mereka yang akan menderita.
ST3 Telkom

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Dcreators